Rabu, 27 Februari 2013

PENGARUH PENAMBAHAN KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISH NUGGET IKAN LELE (Clarias Sp)




PENGARUH PENAMBAHAN KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISH NUGGET IKAN LELE (Clarias Sp)




                                               









PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2010

I.                  

 
 PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Ikan merupakan sumber bahan pangan bermutu tinggi, terutama karena ikan banyak mengandung protein yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Namun demikian ikan merupakan bahan pangan yang mudah rusak. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan pengolahan agar dapat mempertahankan daya awet ikan dan tidak mengurangi nilai gizinya. Sebagian besar dari hasil perikanan dunia digunakan untuk kebutuhan manusia dan 25% digunakan sebagai bahan makanan ternak. Kontribusi ikan pada total suplai protein hewani dan nabati dunia mencapai 5,5% sedangkan konsumsi protein hewani untuk Asia dan Afrika yaitu sekitar 10 gr/kapita/hari, dimana 25-35% protein tersebut berasal dari ikan (Armawati, 2005)
Tingkat konsumsi ikan di Provinsi Jambi sekitar 27 kg/kapita/tahun, masih dibawah tingkat konsumsi ikan nasional 28 kg/kapita/tahun. Targetnya, pada tahun 2010 tingkat konsumsi ikan di Provinsi Jambi meningkat menjadi 30 kg/kapita/tahun (Dinas Perikanan dan Kelautan, 2010). Rendahnya tingkat konsumsi tersebut kemungkinan disebabkan oleh kurangnya variasi produk olahan hasil perikanan dalam bentuk yang disukai oleh masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsumsi ikan adalah dengan mengupayakan penganekaragaman produk olahan ikan. Ikan yang dapat dikembangkan produk olahan makanan antara lain adalah ikan lele.
Untuk mengatasi hal diatas maka ikan dapat dibuat menjadi produk olahan yang dapat disajikan dan dikemas sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan konsumen, antara lain diolah menjadi fresto, fish burger, sosis, ikan asap, kerupuk, abon lele, bakso dan fish nugget (Armawati, 2005).
1
 
Salah satu bahan baku yang dapat dikembangkan untuk produk  olahan  serta dapat meningkatkan nilai tambah ikan lele. Ikan lele sangat mudah dibudidayakan, sehingga perlu adanya diversifikasi produk dengan bahan baku ikan lele. Selain itu ikan lele memiliki daging yang rasanya enak dan mengandung 17% protein, 4-5% lemak (Anonim, 2009).
Ikan lele yang kaya dan tingi kandungan gizinya ini ternyata juga sangat bermanfaat untuk ibu hamil. Karena kandungan lemaknya rendah, daging ikan lele bisa membantu pertumbuhan janin dalam kandungan dan sangat baik bagi jantung (Senior, CGN Portal-Cyberhealth, 2008 diacu dalam Tim Agriminakultur, 2008). Ikan lele juga merupakan ikan air tawar yang sering dikonsumsi oleh manusia tetapi pengolahannya masih sangat terbatas. Produksi perikanan ikan lele Kabupaten/Kota Jambi tahun 2008, dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Produksi perikanan ikan lele Kabupaten/Kota Jambi tahun 2009
Nama Kabupaten/Kota
Jumlah ikan lele yang dihasilkan (Ton/MT)
Tanjung Jabung Barat
Tanjung Jabung Timur
Tebo
Bungo
Kerinci
Merangin
Sarolangun
Batanghari
Muaro Jambi
Kota Jambi
34,6
31,7
64,4
30,6
-
51,2
                          121,0
  3,2
                          621,1
92,9
Jumlah   
                    1,048,5
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi (2009)
Produk nugget yang beredar di pasaran umumnya berbahan dasar daging ayam. Kadar lemak daging ayam sebesar 25,0%, sedangkan kadar lemak lele 4,5% (Anonim, 2003). Daging ayam tersebut memiliki kadar lemak yang tinggi dan harganya tergolong mahal. Oleh karena itu, konsumen mulai menyadari sumber protein alternatif, yaitu daging ikan karena memiliki kadar lemak rendah, kadar protein yang tinggi dan harganya lebih terjangkau. Dilihat dari perkembangan zaman dengan meningkatkan kesukaan konsumen terhadap produk chicken nugget, maka dilakukan usaha diversifikasi pada produk perikanan yaitu fish nugget (Yulianingsih, 2005).
Fish nugget adalah salah satu bentuk produk olahan daging ikan giling dan diberi bumbu serta dicampur dengan bahan pengikat kemudian dicetak menjadi bentuk-bentuk tertentu, selanjutnya dilumuri tepung roti dan digoreng. Dimana produk ini diharapkan dapat mempunyai pasaran yang cukup baik terutama bagi masyarakat yang umumnya lebih menyukai produk makanan praktis dan cepat saji (Mesra, 1994 diacu dalam Yulianingsih, 2005)
Dalam penelitian Rumaniah (2002) diacu dalam Yulianingsih (2005), digunakan surimi untuk mendapatkan nugget dengan tekstur yang lebih baik. Sedangkan dalam penelitian ini hanya digunakan dengan lumat. Tekstur nugget yang dihasilkan surimi lebih baik dibandingkan dengan daging lumat sehingga dilakukan penambahan karagenan untuk meningkatkan gel produk dan menghasilkan produk nugget dengan tekstur yang kompak. Bahan pembentuk gel biasa ditambahkan antara lain pektin, agar, gelatin, dan karagenan (Hidayat dan Ikaristiana, 2004 diacu dalam Martia, 2008).
Menurut  Buckle et. al (1987), gel dari gelatin mempunyai konsistensi yang lunak, elastis, mudah digigit dan bersifat seperti karet. Sampai saat ini, gelatin masih merupakan barang impor sehingga sewaktu-waktu dapat menyebabkan terjadinya kelangkaan dan harganya menjadi mahal. Gelatin yang dipasaran umumnya diproduksi dari kulit dan tulang babi. Gel dari agar-agar mampu menghasilkan ester sulfat hanya 24%, sehingga memiliki sifat rapuh, mudah patah dan lebih keras. Gel dari pati menghasilkan gel yang lebih kenyal, kuat dan elastis, namun cenderung liat dan sulit digigit. Sedangkan pektin menghasilkan gel yang rapuh dan lunak.
Karagenan merupakan senyawa hidrokoloid yang diperoleh dari ekstraksi getah rumput laut dengan air, kemudian disaring dan diendapkan dengan alkohol kemudian dikeringkan. Rumput laut penghasil karagenan adalah jenis Eucheuma sp., Hypnea sp., Chondrus sp., dan Gigartina sp (Winarno, 1990).
Menurut Winarno (1996 diacu dalam Yulianingsih, 2005), karagenan berfungsi sebagai stabilisator (pengatur keseimbangan), bahan pengental dan pembentuk gel dalam industri pengolahan makanan. Karagenan mampu memperbaiki tekstur dan kekenyalan gel produk, serta dapat meningkatkan daya mengikat air. Dai segi ekonomi, karagenan lebih murah dibandingkan bahan pembentuk gel lainnya. Karagenan dapat dicampurkan dalam daging, larutan garam, tepung dan bahan pangan lainnya dalam mixer dan blender. Umumnya karagenan digunakan pada konsentrasi kurang lebih 1 % (Keeton, 2001 diacu dalam Herawati, 2008).
Menurut (Winarno, 1996 diacu dalam Sudrajat 2007), standar mutu karagenan dalam bentuk tepung adalah 99 % lolos dari saringan 60 mesh, tepung yang terendap alkohol 0,7 dan kadar air 15 %. Karagenan dapat digunakan sebagai pembentuk gel karena mengandung ester sulfat yang lebih kuat, yaitu 25-40 %. Dengan ester yang tinggi, karagenan dapat membentuk gel dengan baik. Di pasaran pada umumnya karagenan berupa campuran berbagai jenis tetapi hampir 60 % adalah jenis kappa dan 40 % jenis lambda.
Alasan menggunakan karagenan dikarenakan bersifat mampu membentuk gel dan mampu membuat cairan menjadi kental sehingga karagenan menjadi suatu pilihan yang praktis digunakan dalam berbagai macam produk (Yulianingsih, 2005). Menurut Yulianingsih (2005), berdasarkan penambahan karagenan 1%  mampu meningkatkan kekompakkan tekstur fish nugget ikan mas yang dhasilkan dengan kadar air 53,16%, kadar protein 10,97% dan kadar lemak 14,54%.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Karagenan Terhadap Sifat Fisik Dan Organoleptik Fish Nugget Ikan Lele (Clarias sp)”.

1.2.            Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui pengaruh penambahan karagenan terhadap sifat fisik dan orgfanoleptik  produk fish nugget.
2.      Mengetahui  konsentrasi karagenan terbaik yang digunakan dalam pembuatan fish nugget.

1.3.                                                            Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penggunaan karagenan sebagai bahan pengikat pada pembuatan  fish nugget. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan memberikan sumbangan pengetahuan khususnya Teknologi Hasil Pertanian.



1.4.            Hipotesis
1.      Penambahan karagenan dalam fish nugget akan mempengaruhi sifat fisik dan organoleptik fish nugget.
2.      Terdapat jumlah penambahan karagenan tertentu untuk menghasilkan sifat fisik dan organoleptik  fish nugget yang baik.



























II.               

 

 
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.            Ikan Lele (Clarias sp)
Pada tahun 2010  target produksi budidaya ikan di Provinsi Jambi mencapai 40.000 ton/MT (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2009).
Ikan lele adalah ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting dan sudah tersebar luas di Indonesia. Kebutuhan ikan lele konsumen di dalam negeri terus mengalami peningkatan sejalan dengan semakin populernya ikan lele sebagai hidangan yang sangat lezat. Di Indonesia jenis ikan lele cukup banyak, tetapi paling banyak dibudidayakan adalah jenis ikan lele dumbo (Susanto, 1987 diacu dalam Tim Agriminakultur, 2008).
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang mengandung protein yang penting untuk pertumbuhan tubuh. Ikan lele mengandung 17% protein, terdiri asam-asam amino assensial yang tidak rusak pada waktu pemasakan. Kandungan lemaknya 4-5% dan lemaknya mudah dicerna oleh jaringan tubuh serta baik untuk pertumbuhan dan menurunkan kolesterol darah. Ikan lele dan hasil produknya hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan pencernaan karena mudah dicerna. Hal ini dikarenakan ikan lele mempunyai serat-serat protein lebih pendek dari pada protein daging ayam atau sapi (Anonim, 2009). Komposisi nilai gizi ikan lele (Clarias. Sp) dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi Kandungan Gizi Ikan Lele Tawar
No
Kandungan Gizi
Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
Protein
Lemak
Mineral
Air
Karbohidrat
18,7 %
4,8 %
1,2 %
78 %
0,3 %
Sumber: Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Jambi (2008)
6
 
            Sifat utama pada daging ikan lele adalah cepat rusak dan mengalami proses pembusukan, karena daging ikan lele merupakan subtrat yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme, terutama bakteri karena daging ikan memiliki kandungan air yang cukup tinggi dimana hal ini sangat sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme bakteri (Wiraswanti, 2008).
            Sampai saat ini, umumnya ikan lele dikonsumsi langsung. Padahal sebenarnya ikan lele dapat diolah menjadi nugget. Fish nugget adalah salah satu cara untuk memperpanjang umur simpan dan meningkatkan sumber pendapatan masyarakat Kota Jambi.

2.2.Fish Nugget
Nugget adalah suatu bentuk produk olahan dari daging giling dan diberikan bumbu-bumbu serta dicampurkan dengan bahan pengikat kemudian dicetak menjadi bentuk-bentuk tertentu. Selanjutnya dilumuri tepung roti (coating) dan digoreng. Hal yang terpenting dari produk nugget adalah penampakan produk akhir, warna, tekstur dan aroma. Pada saat pelumuran dengan tepung roti diusahakan secara merata, jangan sampai adonan kelihatan (Yulianingsih, 2005).  Menurut Mesra (1994 diacu dalam Yulianingsih, 2005)  Nugget adalah suatu bentuk daging giling yang diselimuti oleh batter dan breading, digoreng setengan matang lalu dibekukan untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan.
Fish nugget merupakan produk beku yang harus terlebih dahulu digoreng sebelum dikonsumsi. Produk ini memiliki rasa gurih, berwarna coklat keemasan dan memiliki tekstur yang renyah setelah digoreng, sehingga dapat disajikan dengan lauk bersama nasi. Fish nugget hanya memerlukan waktu penggorengan selama 1 menit pada suhu 150 0C. Ketika digoreng, nugget beku setengah matang akan berubah warna menjadi kekuning-kuningan dan kering (Astawan, 2007 diacu dalam Herawati, 2008).
Produk nugget saat ini cukup disukai oleh masyarakat khususnya masyarakat golongan menengah keatas umumnya menyukai produk-produk praktis dan cepat saji. Nugget yang berada dipasaran saat ini umumnya terbuat dari daging ayam dan disukai oleh masyarakat (Yulianingsih, 2005).  Adapun syarat mutu Nugget ayam menurut SNI 01-6683-2002 dapat dilihat pada Tabel 3.  




Tabel 3. Syarat Mutu Nugget Ayam
No
Jenis Uji 
Satuan
Persyaratan
1.



2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.


9.





10.
11.

Keadaan
1.1.  Aroma
1.2.  Rasa
1.3.  Tekstur
Benda Asing
Air
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalsium
Bahan Tambahan Makanan
8.1. Pengawet
8.2. Pewarna
Cemaran Logam
9.1. Timbal
9.2. Tembaga
9.3. Seng
9.4. Timah
9.5. Raksa
Cemaran Arsen
Cemaran Mikroba
11.1.Angka Lempeng Total
11.2. Coliform
11.3. E. coli
11.4. Salmonella
11.5. Staphylococcus aerus

-
-
-
-
% b/b
% b/b
% b/b
% b/b
mg/100 g

-
-

mg/kg              
mg /kg
mg /kg
mg /kg
mg /kg
mg /kg

Koloni/g
APM/g
APM/g
125g
Koloni/g

Normal
Normal
Normal
Tidak boleh
Maks 60
Min 12
Maks 20
Maks 25
Maks 30

Sesuai dengan SNI 01-0222-1995


Maks 2,0
Maks 20,0
Maks 40,0
Maks 40,0
Maks 0,03
Maks 1,0

Maks 5 x 104
Maks 10
≤ 3
Negatif
Maks 1 x 102
Sumber: SNI 01-6683-2002
2.3. Karagenan
            Karagenan adalah suatu bentuk polisakarida linier dengan berat molekul yang tinggi, yaitu antara 100.000 sampai 500.000. karagenan tersusun dari perulangan unit-unit galaktosa dan 3,6-anhydro-D-Galaktosa, keduanya dengan ikatan glikosidik α-1,3 dan β-1,4 secara bergantian (Angka dan Suhartono, 2000 diacu dalam Yulianingsih, 2005).
            Karagenan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi dengan air atau larutan alkali dari spesies Rhodophyceae (alga merah), biasanya alga yang mengandung karagenan adalah dari marga Euchema (Gurning, 2004).
            Menurut winarno (1996 diacu dalam Yulianinsih, 2005), karagenan dapat diperoleh dari hasil pengendapan dengan alkohol, pengeringan dengan alat (drum dryer) dan pembekuan. Jenis alkohol yang dapat digunakan untuk pemurnian hanya terbatas pada methanol, etanol, dan isopropanol. Karagenan sangat penting perannya sebagai stabilizer (pengatur keseimbangan), thickener (bahan pengental), pengemulsi dan lain-lain. Sifat ini banyak dimanfaatkan dalam industri makanan (pembuatan kue, susu, es krim, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, dan pelapis produk), farmasi, (pasta gigi dan obat-obatan), kosmetik, tekstil, dan cat.
            Menurut Yulianingsih (2005),  penggunaan karagenan yang dimaksudkan untuk memperbaiki tekstur dan kekenyalan gel dari produk. Karagenan dapat meningkatkan daya mengikat air, memperbaiki daya iris produk akhir, meningkatkan juiceness serta melindungi produk dari efek pembekuan. Karagenan dapat dicampurkan bersama daging, larutan garam, dan bahan tambahan lainnya dalam mixer. Umumnya karagenan digunakan pada konsentrasi kurang dari 1%.
            Karagenan digunakan untuk mengontrol kadar air, tekstur dan sebagai penstabil, selain itu digunakan pada industri makanan untuk membentuk gel dan menambah ketebalan. Karagenan dapat digunakan sebagai bahan pembentuk gel karena mengandung gugus ester sulfat. Terjadinya gaya tolak menolak antara grup ester sulfat yang bermuatan negatif disepanjang rantai polimer menyebabkan molekul menjadi kaku dan tarik menarik kencang. Hal ini menyebabkan molekul bersifat hodrofilik atau dapat mengikat air (Alpis, 2002 diacu dalam Susianti, 2005).
            Karagenan kering dapat disimpan dengan baik selama 1,5 tahun pada suhu kamar dengan pH 5-6,9 karena selama penyimpanan dengan pH tersebut, kehilangan kekuatan gelnya tidak akan terdekteksi (Winarno, 1990).
            Karagenan merupakan tepung berwarna  putih atau  kekuningan, tidak berbau dan memiliki rasa getah. Karagenan larut dalam air pada suhu sekitar 800C. Standar mutu untuk produk karagenan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Standar Mutu Karagenan
Spesifikasi
FAO
FCC
EEC
Zat volatile/kadar air (%)
Sulfat (%)
Viskositas pada larutan 1,5%
Kadar abu (%)
Maks 12
15-40
Min 5 cp
15-40
Maks 12
18-40
Min 5 cp
Maks 35
Maks 12
15-40
Min 5 cp
15-40
Logam berat
As (ppm)
Cu + Zn (ppm)
Zn (ppm)
Maks 3
-
-
Maks 3
-
-
Maks 3
Maks 50
Maks 25





Sumber: (Febrianata, 2006 diacu dalam Wiraswanti, 2008)
Keterangan:
FAO = Food Agricultural Organization
FCC = Federal Communication Commision
EEC = European Economic Cominity
            Menurut Winarno (1990), berdasarkan strukturnya karagenan terbagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu kappa, iota dan lambda karagenan.
  1. Kappa karagenan tersusun dari α (1-3) D galaktosa 4-sulfat dan β (1-4) 3,6 anhydrp D galaktosa. Disamping itu, karagenan sering mengandung D-galaktosa-6 sulfat ester dan 3,6 anhydro-D galaktosa 2-sulfat ester. Adanya gugusan 6-sulfat, dapat menurunkan daya gelasi dari karagenan, tetapi dengan pemberian alkali mampu menyebabkan terjadinya transeliminasi gugusan 6-sulfat, yang menghasilkan terbentuknya 3,6 anhydro-D galaktosa. Dengan demikian derajat keseragaman molekul meningkat dan daya gelasinya juga bertambah.
  2. Iota karagenan ditandai dengan adanya 4-sulfat ester pada setiap residu D-glukosa dan gugusan 2-sulfat ester pada setiap gugusan 3,6 anhydro-D galaktosa. Gugusan 2-sulfat ester tidak dapat dihilangkan oleh proses pemberian alkali seperti halnya kappa karagenan. Iota karagenan sering mengandung beberapa gugusan 6-sulfat ester yang menyebabkan kurangnya keseragaman molekul yang dapat dihilangkan dengan pemberian alkali.
  3. Lambda karagenan memiliki sebuah residu disulphated α (1->4) D galaktosa berbeda dengan kappa dan iota karagenan yang selalu memiliki gugus 4-phosphatester.
Kappa karagenan dapat mmbentuk gel yang kuat dan tidak jernih. Gel tersebut akan menjadi jernih dengan penambahan gula. Iota karagenan membentuk gel yang elastis dan jernih. Sementara lambda karagenan tidak dapat membentuk gel karena tidak mengandung gugus anhidrogalaktosa (Martia, 2008).
Menurut Moirano (1977 diacu dalam Martia, 2008) bahwa kappa karagenan dan iota karagenan dapat digunkan sebagai pembentuk gel pada pH rendah. Kappa dan iota tidak mudah terhidrolisi, sehingga dapat digunakan dalam pengolahan pangan pada pH rendah (3,0 – 4,0). Stabilitas karagenan dalam beberapa tingkat keasaman (pH) dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Daya Kestabilan Karagenan terhadap pH dalam Berbagai Media Pelarut
Stabilitas

Jenis-jenis Karagenan


Kappa 
Iota
Lambda
Pada pH alkali
Pada pH netral
Pada pH asam
Stabil
Stabil
Terhidrolisis dalam larutan jika dipanaskan, stabil dalam bentuk gel
Stabil
Stabil
Terhidrolisis dalam larutan, stabil dalam bentuk gel
Stabil
Stabil
terhidrolisis
Sumber: Thomas (1992) diacu dalam Wiraswati (2008)

2.4. Bahan Pembuat Fish Nugget
Bahan pengisi umumnya terdiri dari karbohidrat saja serta mempunyai pengaruh kecil terhadap emulsifikasi. Fungsi bahan pengisi ialah untuk memperbaiki stabilitas emulsi, menurunkan penyusutan akibat pemasakan, memberikan warna yang terang, meningkatkan elastisitas produk dan membentuk tekstur yang padat. Selain itu penambahan bahan pengisi dapat meningkatkan daya mengikat air dan mengabsorbsi air hingga dua kali lipat dari berat semula. Salah satu bahan pengisi antara lain adalah tepung jagung atau maizena. Kandungan utama dari tepung jagung adalah pati. Selain itu juga terkandung protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, dan vitamin B1. Maizena mempunyai granula-granula yang terbentuk polygonal dan bulat. Diameter maizena berkisar antara 5-25 mikron (Elingosa, 1994 diacu dalam Yulianingsih, 2005). Menurut Aswar (1995), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa penggunaan tepung maizena sebagai pengikat lebih disukai dari pada tepung tapioka. Maizena mudah dan praktis digunakan sebagai bubuk pelapis, pengisi dan penstabil. Jenis protein yang terkandung dalam jagung antara lain albumin, globulin, protamin, gluten, dan skeleroprotein.
Bahan pembantu adalah bahan yang sengaja ditambahkan atau diberikan dengan tujuan untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan serta untuk memantapkan bentuk dan rupa seperti gula dan garam (Winarno et al. 1980 diacu dalam Yulianingsih, 2005). Bahan-bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatan fish nugget adalah gula, garam, es batu, bumbu-bumbu meliputi bawang putih (Allium sativa L.) dan lada (Pipernigrum) (Aswar, 1995).
Garam merupakan komponen bahan makanan yang ditambahkan dan digunakan sebagai penegas cita rasa, bahan pengawet dan bahan untuk melepaskan adonan pada industri roti. Garam mungkin terdapat secara alamiah dalam makanan atau ditambahkan pada waktu pengolahan dan penyajian makanan. Makanan yang mengandung garam kurang dari 0,3% akan terasa hambar dan tidak disukai. Penggunaan garam tidak boleh terlalu bayak karena akan menyebabkan terjadinya pengumpalan dan rasa produk sangat asin. Biasanya garam yang ditambahkan pada produk berkisar antara 2-3% dari berat daging yang digunakan (Herawati, 2008)
Gula adalah suatu istilah umum yang sering digunakan sebagai pemanis, tetapi dalam industri pangan biasanya digunakan untuk menyatakan sukrosa yang diperoleh dari bit atau gula tebu. Pemakaian gula dapat dipengaruhi cita rasa yaitu menambah rasa manis, kelezatan, mempengaruhi aroma dan tekstur daging serta mampu menetralisir garam yang berlebih. Gula merupakan senyawa organik yang penting sebagai bahan makanan, mudah dicerna dan didalam tubuh manusia berfungsi sebagai kalori. Penunaan gula pada produk penting untuk memperbaiki aroma tekstur daging (Buckle et al., 1987).
 Es batu ditambahkan ke dalam adonan fish nugget untuk membentuk adonan yang baik dan menurunkan suhu selama proses penggilingan. Es batu dapat mempertahankan suhu rendah lebih lama dibandingkan air pada suhu yang sama. Es batu mampu menyerap kalor lingkungan lebih banyak dibandingkan air dingin sebelum mengalami kenaikan suhu (Herawati, 2008). Dalam pembuatan chicken nugget, es juga ikut di campurkan ke dalam bahan. Penambahan es batu ke dalam bahan bertujuan untuk menstabilkan temperatur bahan karena pada pengolahan dilakukan proses penggilingan yang dapat meningkatkan temperatur. Jika temperatur bahan terlalu tinggi maka emulsi akan pecah dan produk tidak akan bersatu selama pemasakan. Hal ini disebabkan oleh adanya denaturasi protein akibat panas yang terlalu tinggi (Rahmaati, 2004 diacu dalam Munauwaroh, 2010).
Bawang putih yang digunakan dalam bentuk segar yang berfungsi sebagai penguat rasa dan pemberi aroma yang khas guna meningkatkan selera makan. Tanaman bawang memiliki karakter bau sulfur yang khas sebagai bentuk dari adanya asam-asam amino non protein penyusun senyawa volatil, disamping bawang putih juga mengandung protein, lemak, vitamin B, vitamin C, serta mineral seperti kalium, fosfat, dan belerang (Pulungkun dan Budiarti, 1992 diacu dalam Yulianingsih, 2005).
Lada atau merica biasanya digunakan sebagai penyedap rasa pada bahan makanan. Lada sangat digemari karena memiliki dua sifat penting rasanya yang pedas dan aroma yan khas. Kedua sifat tersebut disebabkan kandungan bahan-bahan kimiawi organik yang terdapat pada lada. Rasa lada yang pedas persenyawaan dari piperin dan alkaloid (Rismunandar, 1993 diacu dalam Yulianingsih, 2005).
Batter adalah tepung-tepungan yang biasa digunakan untuk melapisi produk-produk makanan (coating). Coating dapat digunakan untuk melindungi produk dari dehidrasi selama pemasakan dan penyimpanan. Definisi lain dari batter (tepung perekat) adalah campuran yang terdiri dari air, tepung, pati dan bumbu-bumbu yang digunakan untuk mencelupkan produk sebelum dimasak.
Pelumuran tepung roti (breading) merupakan bagian yang penting dalam proses pembuatan produk pangan beku. Kerenyahan produk yang dilumuri tepung roti membuat produk tersebut lebih enak dan lezat (Elingosa, 1994 diacu dalam Yulianingsih, 2005).











 
III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Oktober sampai bulan November 2010 di Laboratorium Rekayasa Dan Proses Pengolahan Hasil Pertanian dan Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Perternakan Universitas Jambi.

3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah daging ikan lele (Clarias sp), karagenan, tepung maizena, telur, bawang putih, tepung roti, garam, gula, lada dan es batu. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk analisa adalah kertas saring whatman no. 41 dan kertas grafik.
Alat-alat yang digunakan untuk pembuatan Fish Nugget meliputi pisau, telenan, alat penghancur daging (blender), baskom, kompor, sendok, nampan, loyang, pengaduk, penggorengan, kertas almunium foil, oven, kertas saring, mortal, lemari es, timbangan analitik dan timbangan biasa. Sedangkan alat yang digunakan untuk analisa antara lain colour reader, lampu, alat pembeban 35 kg, plat kaca, mistar, steven LFRA teksture Analyzer, pisau, dan jangka sorong

3.3. Rancangan Percobaan
Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan perlakuan penambahan karagenan (%) yang terdiri dari 5 taraf percobaan yaitu:
H0 = Penambahan karagenan 0 % (b/b)
H1 = Penambahan karagenan 0,5 % (b/b)
H2 = Penambahan karagenan 1 % (b/b)
H3 = Penambahan karagenan 1,5 % (b/b)
H4 = Penambahan karagenan 2 % (b/b)
Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali sehingga didapat 20 satuan percobaan.




14
 
 
3.4. Pelaksanaan Penelitian
Fish nugget dibuat dari daging giling ikan lele yang telah dipisahkan dari tulang dan dilumatkan. Proses pembuatan fish nugget diawali dengan melakukan penyiangan (pembuangan sisik, kepala, isi perut, sirip, da insang). Kemudian dilakukan pemisahan daging ikan dari kulit dan tulangnya.  Pada ikan lele yang masing segar dan dicuci bersih untuk menghilangkan darah dan sisa kotoran. Selanjutnya tiriskan kemudian ditimbang seberat 300 g.
Setiap 300 g daging ikan lele yang akan dibuat nugget digiling menggunakan blender sampai ikan lele lumat bersama es batu sebanyak 15 % dari berat daging, garam 2 %, karagenan (sesuai dengan perlakuan masing-masing 0 %, 0,5 %, 1 %, 1,5 %, 2 %), maizena 15 %, gula 2 %, bawang putih 1 %, dan  lada 0,5 %,
Setiap perlakuan masing-masing diaduk hingga benar-benar homogen setelah terbentuk adonan, setelah itu adonan di masukan kedalam loyang dengan ukuran 23 x 18 x 3 cm yang telah dilapisi kertas aluminium foil, kemudian dikukus selama 30 menit pada suhu 1000 C. Setelah pengukusan fish nugget didiamkan selama 5 menit, kemudian dipotong-potong dengan ukuran fish nugget sebesar 5 cm x 3 cm x 1 cm dan kemudian dilakukan analisa warna, WHC, stabilitas emulsi, kekerasan, dan elastisitas. Sebagian dari fish nugget dilakukan uji organoleptik.

3.5. Parameter Yang Diamati
3.5.1. Analisa Warna Dengan Menggunakan Colour Reader
Pengukuran warna dilakukan secara objektif dengan menggunakan alat Colour Reader Fish Nugget, Pengukuran dilakukan dengan meletakan lampu pemerikasaan pada bidang datar  permukaan Fish Nugget. Sinar lampu tidak boleh keluar dari permukaan bahan. Pengukuran dilakukan triplo. Persentase sinar yang terbaca pada alat dicatat yaitu nilai L (Tinggkat Kecerahan). Nilai L menunjukkan tingkat kecerahan yang memiliki nilai antara 0 (hitam) sampai 100 (putih).



14
 
 
3.5.2. WHC (Water Holding Capacity) Metode Hamm, 1972 diacu dalam Suparno 2001.
            Dengan membebani atau mengepres 0,3 g sampel fish nugget dengan beban 35 kg pada suatu kertas saring diantara dua plat kaca selama 5 menit. Area yang tertutup sampel fish nugget yang telah pipih, dan luas area basah disekelilingnya pada kertas saring beserta sampel fish nugget ditandai dan setelah pengepresan selesai, dapat diukur (misalnya digambar pada kertas grafik). Area basah diperoleh dengan mengurangi area yang tertutup sampel fish nugget dari area total yang meliputi pula area basah pada kertas saring. Kandungan air fish nugget dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
            mg H2O = area basah (cm) – 8,0
                                                0,0948

3.5.3.      Stabilitas Emulsi                   
            Prinsip pengukuran kestabilan emulsi yang dilakukan adalah mengukur kestabilan emulsi fish nugget terhadap perubahan suhu yang ekstrem. Fish nugget yang akan dihasilkan dihancurkan dengan menggunakan mortal, lalu ditimbang sebanyak 5 gram dan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 450C selama 1 jam, kemudian dimasukkan dalam pendingin bersuhu dibawah 00C selama satu jam. Sampel dimasukkan lagi ke dalam oven pada suhu 450C selama satu jam dan dibiarkan sampai beratnya konstan. Pengamatan dilakukan terhadap kemungkinan terjadinya pemisahan air dari emulsi. Air yang terpisah diserap dengan kertas serap. Bila terjadi pemisahan, emulsi dikatakan tidak stabil dan tingkat kestabilan dihitung berdasarkan fase terpisah terhadap emuksi keseluruhan. Stabilitas emulsi dapat dihitung berdasarkan rumus berikut :
SE (%) =
Berat fase yang tersisa = (berat emulsi pengovenan ke-2 + cawan) – berat cawan
Berat Total bahan emulsi = (berat bahan emulsi + cawan) – berat cawan



3.5.4. Kekerasan (AOAC, 1995)
            Pengukuran sifat fisik tekstur fish nugget yaitu dengan menggunakan alat Steven LFRA Texture Analyzer (Texture Expert TA-XT2i). Cara kerja alat ini adalah pisau pada alat memotong sampel kemudian akan terbaca kurva. Kurva tertinggi menyatakan nilai kekerasan sampel. Nilainya adalah besarnya gaya tekan untuk memecahkan produk padat, dinyatakan dalam N. Semakin besar daya yang digunakan untuk memecah produk, maka besar nilai kekerasan produk tersebut.

3.5.5. Elastisitas
            Penentuan elastisitas fish nugget dilakukan dengan menggunakan alat Steven LFRA Texture Analyzer. Sampel ditusuk dengan probe sampai kedalaman 30 – 40 % ketebalan sampel tetapi tidak sampai memecahkan permukaannya, kemudian diulang sekali lagi pada tempat yang sama. Tinggi peak ke 1 dan ke 2 kemudian diukur dengan jangka sorong. Elastisitas diperoleh dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:
            Elastisitas = Tinggi peak ke dua  x 100 %
                                            Tinggi peak ke satu

3.5.6. Analisa Organoleptik (Soekarto, 1985)
            Analisa sensori yang dilakukan terhadap fish nugget adalah skala hedonik dan uji perbandingan jamak. Tujuan uji hedonik adalah mengetahui tingkat penerimaan terhadap semua produk yan dibuat termasuk produk komersial. Skor penilaiannya yaitu 1-5. Uji perbandingan  jamak bertujuan untuk mengetahui perbandingan mutu produk yang dibuat dengan produk yang telah ada.

3.6. Analisis Data
            Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam pada taraf 1 % dan 5 %. Jika berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5 %.



 
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.            Analisa Warna
4.1.1.   Tingkat Kecerahan (L)
Warna merupakan salah satu sifat visual yang pertama kali di lihat oleh konsumen. Warna mempunyai arti dan peranan yang sangat penting pada komoditas pangan diantara sifat-sifat produk yang paling cepat memberikan kesan disukai atau tidak disukai adalah warna. Arti dan peranan warna pada produk pangan antara lain sebagai perinci jenis, tanda-tanda kerusakan, petunjuk tingkat mutu da pedoman proses pengolahan (Soekarto, 1990).
Pengukuran warna secara objektif dilakukan dengan menggunakan alat colour reader. Dengan menggunakan alat tersebut diperoleh nilai L yang merupakan parameter warna (lightness/ tingkat kecerahan). Nilai L adalah suatu nilai yang menyatakan gelap dan terangnya bahan yang di analisa. Semakin besar nilai L, maka semakin terang atau cerah bahan tersebut, nilai L memiliki nilai antara 0 (hitam) sampai 100 (putih) (Pomeranz, 1980 diacu dalam Sahrial 1991). 
            Berdasarkan analisa nilai L (lampiran 4) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap warna fish nugget ikan lele yang dihasilkan. Hasil pengukuran rata-rata nilai L (kecerahan) fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rata-rata nilai L (kecerahan) fish nugget ikan lele berdasarkan penambahan karagenan.

Penambahan karagenan  %
Rata-rata nilai L
0
0,5
1
1,5
2
64,57
62,89
63,42
63,42
61,99
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.

18
 
            Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan sebanyak 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% tidak berbeda dan rata-rata nilai L (kecerahan) yang dihasilkan berkisar antara 64,57-61,99. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan karagenan yang digunakan dalam pembuatan fish nugget ikan lele tidak berpengaruh terhadap nilai L (kecerahan) yang dihasilkan. Hal ini di karenakan penggunaan karagenan dimaksudkan untuk memperbaiki tekstur dan dapat meningkatkan daya mengikat air, selain itu karagenan yang digunakan dalam penelitian ini berwarna putih, berbentuk bubuk sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap nilai L (kecerahan) fish nugget ikan lele yang dihasilkan.
            Hubungan penambahan karagenan terhadap warna nilai L (kecerahan) fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Rata-rata nilai L (Kecerahan) fish nugget ikan lele

4.1.2.      Tingkat Kemerahan (a)
Berdasarkan analisa nilai a (lampiran 5) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap warna fish nugget ikan lele yang dihasilkan. Hasil pengukuran rata-rata nilai a (kemerahan) fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rata-rata nilai a (kemerahan) fish nugget ikan lele berdasarkan penambahan karagenan.

Penambahan karagenan  %
Rata-rata nilai a
0
0,5
1
1,5
2
-0,74
-0,60
-0,85
-0,54
-0,96
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.
           
            Berdasarkan Tabel 7, menunjukkan bahwa fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan sebanyak 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% tidak berbeda dan rata-rata nilai a (kemerahan ) yang dihasilkan berkisar antara -0,54 - -0,96. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan karagenan yang digunakan dalam pembuatan fish nugget ikan lele tidak berpengaruh terhadap nilai a (kemerahan) yang dihasilkan. Hal ini di karenakan penggunaan karagenan dimaksudkan untuk memperbaiki tekstur dan dapat meningkatkan daya mengikat air, selain itu karagenan yang digunakan dalam penelitian ini berwarna putih, berbentuk bubuk sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap nilai a (kemerahan) fish nugget ikan lele yang dihasilkan.
            Hubungan penambahan karagenan terhadap warna nilai a (kemerahan) fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Rata-rata nilai a (Kemerahan) fish nugget ikan lele

4.1.3.   Tingkat Kekuningan (b)
Berdasarkan analisa nilai b (lampiran 6) menunjukkan bahwa perlakuan penambahan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap warna fish nugget ikan lele yang dihasilkan. Hasil pengukuran rata-rata nilai b (kekuningan) fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rata-rata nilai b (kekuningan) fish nugget ikan lele berdasarkan penambahan karagenan.

Penambahan karagenan  %
Rata-rata nilai b
0
0,5
1
1,5
2
14,07
14,25
15,13
14,03
13,32
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.
           
            Berdasarkan Tabel 8, menunjukkan bahwa fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan sebanyak 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% tidak berbeda dan rata-rata nilai b (kekuningan) yang dihasilkan berkisar antara 13,32-15,13. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan karagenan yang digunakan dalam pembuatan fish nugget ikan lele tidak berpengaruh terhadap nilai b (kekuningan) yang dihasilkan. Hal ini di karenakan penggunaan karagenan dimaksudkan untuk memperbaiki tekstur dan dapat meningkatkan daya mengikat air, selain itu karagenan yang digunakan dalam penelitian ini berwarna putih, berbentuk bubuk sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap nilai b (kekuningan) fish nugget ikan lele yang dihasilkan.
            Hubungan penambahan karagenan terhadap warna nilai b (kekuningan) fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Rata-rata nilai b (Kekuningan) fish nugget ikan lele

4.2.            Analisa Water Holding Capacity (WHC)
Water holding capacity (WHC) atau daya ikat air oleh protein daging  adalah kemampuan daging untuk mengikat airnya atau air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan dari luar, misalnya penggilingan, pemotongan, dan tekanan (Soeparno, 1991). Daya ikat air ini dihitung berdasarkan hasil air yang keluar dari fish nugget setelah mengalami pengepresan. Jika semakin tinggi hasil air yang keluar dari fish nugget maka WHC fish nugget tersebut semakn rendah karena semakin sedikit air yang terikat dalam fish nugget.
            Hasil analisa ragam (Lampiran 7) menunjukkan bahwa penambahan karagenan pada berbagai taraf tidak berpengaruh nyata terhadap kemampuan daging untuk mengikat airnya. Hasil pengukuran rata-rata nilai WHC pada fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rata-rata nilai Water Holding Capacity (WHC) pada fish nugget ikan lele berdasarkan penambahan karagenan

Penambahan karagenan  %
Rata-rata nilai WHC
0
0,5
1
1,5
2
274,85
230,89
340,78
270,45
206,28
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.

Pada Tabel 9. Terlihat bahwa nilai Water Holding Capacity (WHC) terhadap fish nugget berdasarkan penambahan karagenan yang dihasilkan berkisar antara 206,28–340,78 dalam hal ini penambahan karagenan tidak berbeda terhadap nilai Water Holding Capacity (WHC) pada fish nugget. Nilai Water Holding Capacity (WHC) tertinggi di dapat pada perlakuan penambahan karagenan pada taraf 1% yaitu 340,78%, sedangkan nilai Water Holding Capacity (WHC) terendah pada taraf 2% yaitu 206,28.
Hasil analisa ragam terhadap nilai WHC dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan karagenan berbagai taraf masih belum memberikan pengaruh yang berbeda terhadap nilai WHC fish nugget ikan lele.
            Penambahan karagenan terhadap fish nugget tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai Water Holding Capacity (WHC) fish nugget setelah mengalami pengepresan. Karagenan dapat meningkatkan kemampuan mengikat air bebas dalam adonan fish nugget selama pengolahan hingga pemasakan. Tetapi karagenan tidak mampu mempertahankan kandungan air fish nugget dengan baik setelah fish nugget diberi tekanan atau pengepresan dengan beban 35 kg selama 5 menit. Hal ini dimungkinkan karena karagenan lebih berperan sebagai pengikat (binder), yaitu mengikat air dan mengikat protein.

            Hubungan penambahan karagenan terhadap nilai WHC fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Rata-rata nilai WHC fish nugget ikan lele

4.3.            Analisa Stabilitas Emulsi
Hasil analisa ragam (Lampiran 8) menunjukkan bahwa penambahan karagenan berpengaruh nyata terhadap stabilitas emulsi fish nugget ikan lele. Nilai rata-rata stabilitas emulsi fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Nilai stabilitas emulsi (%) rata-rata fish nugget menurut jumlah penambahan karagenan

Penambahan karagenan  %
Rata-rata nilai stabilitas emulsi (%)
0
1.5
1
2
0.5
                      73,02    a
67,36        b
66,90        b
65,87        b
64,39        b
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.

            Pada tabel 10, terlihat pada perlakuan penambahan karagenan 0% berbeda nyata dengan perlakuan penambahan karagenan 1,5%, 1%, 2%, dan 0,5%. Demikian pada perlakuan penambahan karagenan 1,5% menunjukkan tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan karagenan 1%, 2%, dan 0,5%.
            Perubahan volume emulsi disebut sebagai stabilitas emulsi semakin tinggi volume air yang terlepas dari sistem emulsi berarti tingkat kestabilan emulsi produk tersebut rendah sebagai akibat dari pecahnya ikatan antar molekul.
            Semakin meningkat penambahan karagenan, maka semakin rendah volume air yang terlepas. Hal ini disebabkan karena karagenan merupakan penstabil emulsi, karagenan dapat mencegah terjadinya pemisahan minyak dan air dalam produk. Menurut Susianti (2005), penambahan karagenan sebagai penstabil emulsi akan menyebabkan peningkatan pada kekentalan dan stabilitas suspensi. Dalam hal ini karagenan akan membentuk suatu jaringan tiga dimensi yang dapat menghasilkan emulsi dan mencegah pengendapan, sehingga air akan terperangkap dalam produk.
            Hubungan penambahan karagenan terhadap nilai stabilitas emulsi fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar5. Nilai rata-rata stabilitas emulsi terhadap fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan.

4.4.      Analisa Kekerasan
            Kekerasan adalah gaya yang dibutuhkan untuk menekan suatu bahan atau produk sehingga terjadi perubahan produk yang diinginkan. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekerasan atau keempukan fish nugget ikan lele dengan adanya penambahan karagenan. Kekerasan produk yang dihasilkan ditentukan oleh nilai kecepatan jarum menembus bahan. Semakin kecil nilai kecepatan maka semakin keras produk yang dihasilkan.
            Pengukuran kekerasan pada penelitian ini dinyatakan dalam besarnya gaya (gf) yang diperlukan untuk memotong fish nugget. Gaya yang semakin besar menunjukkan semakin keras fish nugget tersebut.
Hasil analisa ragam (Lampiran 9) menunjukkan bahwa penambahan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kekerasan fish nugget. Nilai rata-rata kekerasan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Nilai rata-rata kekerasan terhadap fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan .

Penambahan karagenan  %
Rata-rata kekerasan
0
0,5
1
1,5
2
222,70
192,75
197,45
243,60
231,00
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.

            Hasil rata-rata analisa kekerasan  yaitu berkisar 192,75 sampai dengan 243,60, dimana fish nugget ikan lele dengan perlakuan penambahan karagenan 1,5% memiliki kekerasan yang paling rendah yaitu sebesar 243,60 dan fish nugget ikan lele dengan perlakuan penambahan karagenan 0,5% memiliki kekerasan yang paling tinggi  yaitu sebesar 192,45.
   Hubungan penambahan karagenan terhadap nilai rata-rata kekerasan fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Nilai rata-rata kekerasan terhadap fish nugget dengan penambahan karagenan

Hasil analisa ragam terhadap kekerasan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan karagenan berbagai taraf masih belum memberikan pengaruh yang berbeda terhadap nilai kekerasan fish nugget.
            Sebenarnya, semakin tinggi penambahan karagenan pada fish nugget, kekerasanna akan semakin tinggi. Hal ini diduga karena pengaruh kadar air dalam produk. Karagenan dapat mengikat air sehingga akan menghasilkan tekstur yang kompak dan padat.

4.5.      Analisa Elastisitas
Elastisitas merupakan laju perubahan ke semula setelah gaya untuk merubah bentuk tersebut dipindahkan. Hasil analisa ragam (Lampiran 10) menunjukkan bahwa penambahan karagenan terhadap fish nugget ikan lele memberikan pengaruh nyata terhadap nilai elastisitas. Rata-rata nilai elastisitas terhadap fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Rata-rata nilai elastisitas terhadap fish nugget ikan dengan penambahan karagenan

Penambahan karagenan  %
Rata-rata elastisitas
1
0,5
0
1,5
2
1426,15   a
1204,00   a
1068,75   a
1052,20   a
        879,40         b
Ket: Angka-angka yang diikuti kecil yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.

            Pada Tabel 12 menunjukkan bahwa perlakuan penambahan karagenan 1%  tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan karagenan 0,5%, 0%, dan 1,5%. Tetapi berbeda nyata dengan perlakuan penambahan karagenan 2%. Sedangkan perlakuan penambahan karagenan 2% menunjukkan berbeda nyata  dengan perlakuan karagenan 1%, 0,5%, 0%, dan 1,5%.
            Karagenan dapat diberikatan dengan protein dan air sehingga menyebabkan fish nugget memiliki kekuatan untuk menahan tekanan dari luar dan kembali ke bentuk semula setelah tekanan dihilangkan (elastis). Elastisitas fish nugget berhubungan dengan kekuatan gel yang terbentuk akibat gelatinisasi pada saat pemasakan.



Hubungan penambahan karagenan terhadap nilai rata-rata elastistisitas fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Nilai rata-rata elastisitas terhadap fish nugget dengan penambahan karagenan


4.6.      Analisa Uji Perbandingan Jamak
            Uji perbandingan jamak dilakukan dengan membandingkan secara organoleptik fish nugget ikan lele pada berbagai taraf penambahan karagenan dengan fish nugget yang beredar di pasaran (R).
            Hasil analisis ragam (Lampiran 11) menunjukkan bahwa penambahan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap rasa fish nugget ikan lele. Rata-rata nilai rasa fish nugget ikan lele berdasarkan uji perbandingan jamak pada berbaai taraf penambahan karagenan dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. skor uji perbandingan jamak terhadap fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan
Penambahan karagenan  %
Rata-rata uji perbandingan jamak
0
0,5
1
1,5
2
3,93
4,00
3,87
4,67
3,40
Ket: sangat lebih tidak gurih (1), lebih tidak gurih (2), agak lebih tidak gurih (3), sama gurih (4), agak lebih gurih (5), lebih gurih (6), sangat lebih gurih (7)

Pada Tabel 13, menunjukkan bahwa penambahan karagenan 0%, 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% tidak berpengaruh terhadap rasa fish nugget ikan lele. Panelis menilai rasa fish nugget pada uji perbandingan jamak berkisar antara 3,40-4,67 yang berarti sama gurih dengan fish nugget di pasaran (R). Hal ini diduga karena karagenan tidak memiliki rasa yang tajam yang dapat mempengaruhi rasa fish nugget ikan lele.
Hubungan penambahan karagenan terhadap skor uji perbandingan jamak fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Nilai rata-rata uji perbandingan jamak terhadap fish nugget dengan penambahan karagenan.

4.7.      Analisa Uji Hedonik
            Uji hedonik merupakan uji kesukaan terhadap suatu sampel. Hasil analisis ragam (Lampiran 12) menunjukkan bahwa penambahan karagenan tidak berpengaruh nyata terhadap kesukaan fish nugget ikan lele. Rata-rata nilai kesukaan fish nugget dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. skor nilai kesukaan terhadap fish nugget ikan lele dengan penambahan karagenan
Penambahan karagenan  %
Rata-rata kesukaan
0
0,5
1
1,5
2
3,33
3,27
3,60
3,67
3,07
Ket: sangat suka (5), suka (4), agak suka (3), tidak suka (2), sangat tidak suka (1)

            Pada tabel 14, menunjukkan baha penambahan karagenan 0%, 0,5%, 1%, 1,5% dan 2% tidak berpengaruh terhadap kesukaan fish nugget ikan lele. Hal ini diduga karena karagenan tidak memiliki rasa yang tajam yang dapat mempengaruhi rasa fish nugget ikan lele. Nilai kesukaan terhadap fish nugget ikan lele berdasarkan penambahan karagenan berkisar antara 3,07-3,67 yang berarti panelis memberi respon agak suka-suka terhadap rasa fish nugget ikan lele.
Hubungan penambahan karagenan terhadap skor uji hedonik fish nugget ikan lele dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Nilai rata-rata uji hedonik terhadap fish nugget dengan penambahan karagenan.






















 
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.            Kesimpulan
1.      Penambahan karagenan berpengaruh nyata terhadap stabilitas emulsi dan elastisitas tetapi tidak berpengaruh terhadap warna, WHC, kekerasan, rasa dan kesukaan.
2.       



5.2.      Saran

























30
 
 

 
DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2009. Ikan Lele. (http://www.kompas.com). [15 mei 2007].

AOAC [Association of Official Analytical Chemistry]. 1995. Official Method of Analisys. Washington DC: Association of official chemist.

Armawati. N. 2003. Kajian Berbagai Jenis Ikan Air Tawar Terhadap Kualitas Fish Nugget Secara Organoleptik [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Universitas Jambi. Jambi.

Aswar. 1995. Pembuatan Fish Nugget dari Ikan Nila Merah (Orep Chromis sp). Skripsi Sarjana Jurusan Teknologi Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan dan  Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Buckle KA, Edward RA, Fleet GH, Wooton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan: H. Purnomo dan Adiono. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Dinas Perikanan dan Kelautan. 2010. Statistik Perikanan Budidaya . Provinsi Jambi. 2009.

Gurning. R. 2004. Evaluasi Pencucian Daging dan Penambahan Karagenan Terhadap Sifat Fisik dan Organoleptik Bakso Daging Ayam [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Herawati, P. 2008. Karakteristik Nugget Ikan Kurisi dengan Penambahan Karagenan dan Tepung Tapioka Pada Penyimpanan Suhu Chilling Dan Freezing [Skripsi]. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Martia DI. 2008. Pengaruh Karagenan Terhadap Sifat Fisik, Kimia, Organoleptik Permen Jelly Nenas Tangkit [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Universitas Jambi. Jambi.

Munauwaroh, 2010. Pengaruh Agar-agar Terhadap Tekstur Pada Nugget Ayam [Skripsi]. Fakultas Pertanian, Universitas Jambi. Jambi.

Soekarto, S.T. 1985. Penelitian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian Bharata Karya Aksara Jakarta.

Soeparno, 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press.

Sudrajat, Galih. 2007. Sifat Fisik dan Organoleptik Bakso Daging Sapi dan Daging Kerbau dengan Penambahan Karagenan dan Chitosan [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.


31
 
 
Susianti A. 2005. Penggunaan Kappa Karagenan Sebagai Bahan Penstabil Saos Tomat [Skripsi]. Fakultas Pertanian dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Standar Nasional Indonesia. 2002. SNI 01-6683-2002. Nugget Ayam. Dewan Standarisasi Nasional Indonesia, Jakarta.

Tim Agriminakultur. 2008. Bisnis dan Budidaya Lele Dumbo Lokal. PT Gramesia Pustaka Utama. Jakarta.

Winarno FG. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta: Pusat Sinar Harapan.

Wiraswanti. 2008. Pemanfaatan Karagenan dan Kitosan dalam Pembuatan Bakso Ikan Kurisi (Nemiptrus Nematophorus) Pada Penyimpanan Suhu Dingin dan Beku [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yulianingsih, L. 2005. Pengaruh Penambahan Karagenan Terhadap Karakterisrik Fish Nugget dari Ikan Mas [Skripsi]. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.


























Lampiran 1. Diagram Alir Pembuatan Fish Nugget Ikan Lele (Clarias sp) (Yulianingsih, 2005)

Penambahan es batu 15 %, maizena 15 %, gula 2 %, bawang putih 1%, garam 2 %, lada 0,5 %, karagenan sesuai perlakuan 0 %, 0,5 %, 1 %, 1,5%, 2 %
 
Daging ikan lele 300 g











adonan
 


 







s


Pengukusan selama 30 menit pada suhu 1000 C
 
 
                                                                            


 










 Fish Nugget
Lampiran 2. Kuisioner

Kuisioner
Uji Hedonik

Nama Panelis              :
Tanggal Penguji          :
Jenis sampel                : Fish Nugget
Kriteria Yang dinilai   : Kesukaan terhadap fish nugget
Instruksi                       : dihadapan anda tersedia sampel. Anda diminta untuk memberikan penilaian sesuai kriteria dengan memberikan tanda silang (x) pada kolom yang tersedia.

Kriteria
Kode sampel
935
213
425
568
387
Sangat suka





Suka





Agak suka





Tidak suka





Sangat tidak suka















Lampiran 3. Kuisioner

Kuisioner  
Uji Perbandingan Jamak

Nama Panelis              :
Tanggal                       :                            
Jenis Sampel                : Fish Nugget
Kriteria yang nilai       :  rasa
Instruksi                      : dihadapan anda tersedia sampel. Anda diminta untuk memberikan penilaian sesuai kriteria dengan memberikan tanda silang (x) pada kolom yang tersedia.
a.              Instruksi : dihadapan anda disediakan 5 sampel pembanding dan satu sampel baku R. Bandingkan sampel pembanding dengan sampel baku, kemudian beri tanda silang (x) sesuai pilihan anda.
Penilaian
Kode sampel
935
213
425
568
387
Lebih gurih dari R





Sama gurih dengan R





Lebih tidak gurih dari R






b.      Instruksi : jika lebih gurih dari R tentukan derajat perbedaannya. Beri tanda silang (x) untuk gurih yang dipilih.
Penilaian
Kode sampel
935
213
425
568
387
Sangat tidak gurih dari R





lebih gurih dari R





Agak lebih gurih dari R






c.       instruksi: jika tidak lebih gurih dari R tentukan derajat perbedaannya. Beri tanda silang (x) sesuai pilihan anda.
Penilaian
Kode sampel
935
213
425
568
387
Aak lebih tidak gurih dari R





Lebih tidak gurih dari R





Sangat lebih tidak gurih dari R






Lampiran 4. Analisa ragam warna nilai (L)
Ulangan
Nilai Warna L
Total
Rata-rata
Penambahan keragenan
0
0.5
1
1.5
2
1
65,3300
61,1300
64,1000
61,5000
64,0300
316,09
63,22
2
62,3300
63,8600
62,6600
62,7600
60,5300
312,14
62,43
3
61,3000
63,6000
63,9000
65,1300
61,8600
315,79
63,16
4
69,3000
62,9600
65,0600
64,3000
61,5300
323,15
64,63
Total
258,26
251,55
255,72
253,69
247,95
1267,17
253,43
Rata-rata
64,57
62,89
63,93
63,42
61,99
316,79
63,36








FK =
80285,99














Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
15,55
3,89
0,96
3,06
4,89

Galat
15
60,47
4,031




Total
19
76,02













keterangan
: ns tidak berbeda nyata





















KK =
3,17






Sy =
1,00



















Lampiran 5. Analisa ragam nilai a (Kemerahan)
Ulangan
Nilai Warna a
Total
Rata-rata
Penambahan karagenan
0
0.5
1
1.5
2
1
-1,2000
-0,4600
-0,7000
-0,1000
-0,4000
-2,86
-0,57
2
-0,7300
-1,1000
-1,0600
-0,2600
-1,1300
-4,28
-0,86
3
-0,7600
-0,5000
-1,0300
-1,2300
-0,9600
-4,48
-0,90
4
-0,2600
-0,3300
-0,6000
-0,5600
-1,3300
-3,08
-0,62
Total
-2,95
-2,39
-3,39
-2,15
-3,82
-14,70
-2,94
Rata-rata
-0,74
-0,60
-0,85
-0,54
-0,96
-3,68
-0,74








FK =
10,80














Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
0,48
0,12
0,82
3,06
4,89

Galat
15
2,18
0,146




Total
19
2,66













keterangan
: ns tidak berbeda nyata





















KK =
-51,92






Sy =
0,19


















Lampiran 6. Analisa ragam nilai b (Kekuningan)
Ulangan
Nilai warna B
Total
Rata-rata
Penambahan karagenan
0
0.5
1
1.5
2
1
14,9330
14,1000
14,9000
12,6000
14,1660
70,70
14,14
2
15,0000
14,0660
14,5000
14,6330
13,1000
71,30
14,26
3
12,1660
15,3330
15,8660
14,9330
13,8660
72,16
14,43
4
14,2000
13,5000
15,2660
13,9660
12,1330
69,07
13,81
Total
56,30
57,00
60,53
56,13
53,27
283,23
56,65
Rata-rata
14,07
14,25
15,13
14,03
13,32
70,81
14,16








FK =
4010,88














Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
6,76
1,69
1,84
3,06
4,89

Galat
15
13,75
0,917




Total
19
20,51













keterangan
: ns tidak berbeda nyata





















KK =
6,76






Sy =
0,48





















Lampiran 7. Analisa ragam water holding capacity (WHC)
Ulangan
Nilai Kadar Water Holding Capacity
Total
Rata-rata
Penambahan Karagenan
0
0,5
1
1,5
2
1
240,56
307,37
356,60
331,98
208,92
1445,43
289,09
2
261,66
135,08
504,28
219,47
230,01
1350,50
270,10
3
282,76
279,24
205,40
247,59
208,92
1223,91
244,78
4
314,40
201,88
296,82
282,76
177,27
1273,13
254,63
Total
1099,38
923,57
1363,10
1081,80
825,12
5292,97
1058,59
Rata-rata
274,85
230,89
340,78
270,45
206,28
1323,24
264,65








FK =
1400776,57














Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
41916,88
10479,22
2,04
3,06
4,89

Galat
15
76905,00
5127,000




Total
19
118821,87













keterangan
: ns tidak berbeda nyata





















KK =
27,06






Sy =
35,80



















Lampiran 8. Analisa ragam stabilitas emulsi
Ulangan
Nilai Kadar Stabilitas Emulsi
Total
Penambahan Karagenan
0
0,5
1
1,5
2
1
72,5369
58,2780
67,9979
62,9206
66,1880
327,92
2
65,7903
65,1115
65,8307
65,6678
68,6683
331,07
3
77,0718
66,4698
66,7379
70,5925
62,2552
343,13
4
76,6853
67,7202
67,0226
70,2489
66,3497
348,03
Total
292,08
257,58
267,59
269,43
263,46
1350,14
Rata-rata
73,02
64,39
66,90
67,36
65,87
337,54







FK =
91144,43












Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel

0,05
0,01
Perlakuan
4
172,72
43,18
3,23
3,06
4,89
Galat
15
200,63
13,375



Total
19
373,35











keterangan
: * berbeda nyata


















KK =
5,42





Sy =
1,83












Jarak
2
3
4
5

P0,05(p.20)
3,01
3,16
3,25
3,31

LSR= P.Sy
5,50
5,78
5,94
6,05








Uji lanjut DNMRT





Kode
Rata-rata
Beda riel pada jarak=p
Notasi
2
3
4
5
0%
73,02
5,66
6,12
7,15
8,63

1.5%
67,36
0,46
1,49
2,97


1%
66,90
1,03
2,51



2%
65,87
1,48




0.5%
64,39



 



Lampiran 9. Analisa ragam nilai kekerasan
Ulangan
Nilai Kadar kekerasan
Total
Rata-rata
Penambahan karagenan
0
0.5
1
1.5
2
1
228,4000
208,0000
127,8000
285,6000
204,4000
1054,20
210,84
2
272,4000
213,4000
162,8000
221,6000
284,4000
1154,60
230,92
3
169,6000
177,2000
258,6000
252,6000
198,2000
1056,20
211,24
4
220,4000
172,4000
240,6000
214,6000
237,0000
1085,00
217,00
Total
890,80
771,00
789,80
974,40
924,00
4350,00
870,00
Rata-rata
222,70
192,75
197,45
243,60
231,00
1087,50
217,50








FK =
946125,00














Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
7620,26
1905,07
1,09
3,06
4,89

Galat
15
26136,34
1742,423




Total
19
33756,60













keterangan
: ns tidak berbeda nyata




















KK =
19,19






Sy =
20,87



















Lampiran 10. Analisa ragam nilai elastisitas
Ulangan
Nilai Elastisitas
Total
Rata-rata
Penambahan karagenan
0
0,5
1
1,5
2
1
1207,20
1024,40
957,20
1269,40
1073,20
5531,40
1106,28
2
1211,80
1435,80
1484,20
1075,00
1040,00
6246,80
1249,36
3
826,00
1400,20
1589,40
937,00
688,00
5440,60
1088,12
4
1030,00
955,60
1673,80
927,40
716,40
5303,20
1060,64
Total
4275,00
4816,00
5704,60
4208,80
3517,60
22522,00
4504,40
Rata-rata
1068,75
1204,00
1426,15
1052,20
879,40
5630,50
1126,10








FK =
25362024,20














Sumber Keragaman
db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
662838,14
165709,54
3,10
3,06
4,89

Galat
15
800605,74
53373,716




Total
19
1463443,88













keterangan
: * Berbeda nyata





















KK =
20,52






Sy =
115,51














Jarak
2
3
4
5


P0,05(p.20)
3,01
3,16
3,25
3,31


LSR= P.Sy
347,70
365,02
375,42
382,35










Uji lanjut DNMRT






Kode
Rata-rata
Beda riel pada jarak=p
Notasi

2
3
4
5
1%
1426,15
222,15
357,40
373,95
546,75


0,5%
1204,00
135,25
151,80
324,60



0%
1068,75
16,55
189,35




1,5%
1052,20
172,80





2%
879,40



 













Lampiran 11. Analisa ragam Uji perbandingan jamak
Ulangan
Skor perbandingan jamak


Penambahan karagenan
Total
Rata-rata
0
0.5
1
1.5
2
1
6
6
4
6
4
26,00
5,20
2
4
2
6
6
4
22,00
4,40
3
6
2
6
4
1
19,00
3,80
4
1
2
2
6
1
12,00
2,40
5
1
3
2
6
2
14,00
2,80
6
3
6
2
2
4
17,00
3,40
7
3
6
2
6
6
23,00
4,60
8
2
4
4
4
6
20,00
4,00
9
7
7
7
6
4
31,00
6,20
10
1
3
6
5
2
17,00
3,40
11
6
3
5
2
4
20,00
4,00
12
3
6
2
4
4
19,00
3,80
13
6
6
2
6
3
23,00
4,60
14
6
2
4
3
4
19,00
3,80
15
4
2
4
4
2
16,00
3,20
Total
59,00
60,00
58,00
70,00
51,00
298,00
59,60
Rata-rata
3,93
4,00
3,87
4,67
3,40
19,87
3,97








FK =
1184,05














Sumber Keragaman
Db
JK
KT
F Hitung
F Tabel


0,05
0,01

Perlakuan
4
12,35
3,09
0,96
2,53
3,65

Galat
70
225,60
3,223




Total
74
237,95













keterangan
: ns tidak berbeda nyata




























KK =
378,02






Sy =
0,46















Lampiran 12. Analisa ragam uji hedonik atau tingkat kesukaan
Ulangan
Skor uji hedonik


Penambahan karagenan
Total
Rata-rata
0
0.5
1
1.5
2
1
4
3
4
4
4
19,00
3,80
2
5
4
4
4
4
21,00
4,20
3
4
4
5
3
1
17,00
3,40
4
4
5
3
3
4
19,00
3,80
5
4
4
3
3
4
18,00
3,60
6
4
4
3
5
3
19,00
3,80
7
2
4
3
2
3
14,00
2,80
8
1
2
4
5
3
15,00
3,00
9
1
5
2
4
3
15,00
3,00
10
1
2
3
5
4
15,00
3,00
11
5
2
4
3
1
15,00
3,00
12
3
2
5
4
3
17,00
3,40
13
4
4
3
4
3
18,00
3,60
14
5
2
4
3
3
17,00
3,40
15
3
2
4
3
3
15,00
3,00
Total
50,00
49,00
54,00
55,00
46,00
254,00
50,80
Rata-rata
3,33
3,27
3,60
3,67
3,07
16,93
3,39








FK =
860,21














Sumber Keragaman
Db
JK
KT
F Hitung
F Tabel
F Tabel

0,05
0,01

Perlakuan
4
3,65
0,91
0,78
2,53
3,65

Galat
70
82,13
1,173




Total
74
85,79













keterangan
 ns tidak berbeda nyata




























KK =
31,98






Sy =
0,24














DOKUMENTASI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar